PASAR Klithikan Pakuncen

PASAR Klithikan Pakuncen memberi warna baru di bidang perekonomian Kota Yogyakarta sejak 11 November 2007. Meski tergolong baru namun pasar yang berada di Jalan HOS Cokroaminoto Nomor 34 Yogyakarta ini menjadi harapan bagi eks pedagang yang berjualan di sepanjang trotoar Jalan Mangkubumi, Jalan Asemgede dan Alun-alun Kidul (Alkid) Kraton Yogyakarta.

Dalam proses relokasi ke Pasar Klitikan ini, para pedagang yang sebelumnya berjualan di ketiga lokasi tersebut sempat khawatir bila nantinya akan sepi pengunjung. Namun, bisnis barang klitikan memiliki konsumen yang loyal, meski lokasi berpindah pengunjung tetap berdatangan setiap harinya dari pagi hingga sekitar pukul 21.00 malam.

Pedagang setempat, Nur Yasin mengaku setelah pindah dari lokasi lama di Alkid mengalami kenaikan pendapatan namun berharap promosi barang antik bisa ditingkatkan lagi. Sebab, hal itu mampu mempertahankan keberadaan klithikan “Mudah-mudahan pemerintah kota yang baru bisa menyamai atau lebih maju dari masa Pak Hery (Zudianto). Jangan malah mundur,” katanya.

Tak Sesuai Harapan

Kendati demikian pasar yang diresmikan Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali memiliki berbagai malah dan kesejahteraan tidak berpihak kepada pedagang. Banyak pedagang yang menjual kiosnya padahal ikut membidani kelahiran pasar ini. Padahal, berdasarkan data dari Lurah Pasar, R Sigit Permono sebenarnya ada 726 pedagang Los dan 17 pedagang Kios.

Mereka, kata Sigit Terbagi dalam 3 Blok yaitu A1 untuk klitikan, A2 untuk ponsel dan barang elektronik.  Blok B1 dan B2 untuk pedagang klitikan, onderdil dan suku cadang serta Blok C1 dan C2 bagi  konveksi dan makanan. Bahkan, saat ini dibangun Metro Zonna X 1 dan X2 di belakang pasar  yang dimanfaatkan untuk pedagang fashion. Totalnya ada 17 kios dimana 12 kios berada di  lantai dasar dan 5 kios di lantai dua yang dibangun atas biaya sendiri sesuai izin dinas  terkait.

“Segala bentuk perubahan dan lahan dasaran sudah diatur dalam Perda. Hanya saja sekarang hanya ada 50 persen pedagang lama hasil relokasi dulu. Sisanya merupakan pedagang baru yang membeli kios dari pedagang lama,”sesalnya.

Pemilik kios ponsel, Lilik Setiawan mengungkapkan pendapatan tidak sebagus saat masih ‘dasaran’ di Jalan Mangkubumi bahkan siap kembali berjualan di tempat sebelumnya karena lebih strategis. “Imej disana (Jalan Mangkubumi) bagus. Kalau disini enaknya cuma lebih resmi dan tidak takut kehujanan namun terjadi penurunan omzet 50 persen. Tapi, entah teman (pedagang0 lain merasakan hal sama atau tidak,” imbuhnya.

Ketua Komonitas Pasar Klithikan (Kompak) Fathurrahman menilai kondisi itu karena pedagang masih menerapkan manajemen tradisional. Ibaratnya, uang yang didapat sekarang untuk makan hari ini sehingga tidak berfikir jangka panjang dan pedagang kesulitan mencari barang bekas (klithikan). Akibatnya, pedagang melego kiosnya untuk mendapatkan modal segar dan memulai bisnis lagi.

Fathurrahman menilai ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesejahteraan  pedagang klitikan seperti pasar global yang terkungkung dalam krisis, melemahnya daya beli masyarakat hingga perekonomian nasional tidak stabil. Ditambah, minimnya kreatifitas pedagang padahal Pasar Klithikan memiliki nilai plus.

“Pengunjung bagus. Pedagang harus pintar bersiasat dan merayu pembeli. Jumlah pengunjung saat hari biasa 5-6 ribu orang dan hari libur mencapai 10 ribu. Pedagang harus tetap ramah, jujur dan memberikan pelayanan yang baik meski barang dagangan didominasi barang baru,” jelasnya.

Dari jumlah pengunjung itu, kata Fathurrahman sekitar 2/3 pengunjung melakukan transaksi dan dalam sehari pedagang bisa memperoleh keuntungan bersih 50-70 persen atau tergantung dagangan. Sedangkan pendapatan kotor bisa dua kali modal dengan retribusi yang tidak terlalu memberatkan.

“Hitungannya, untuk pemilik kios  ukuran 3 meter persegi dikenai biaya Rp 300 dikalikan luas lahan kali jam operasional. Untuk operasional 18 jam berarti dikalikan 1,5. Jadi dalam sehari sekitar Rp 1400. Sedang untuk  pedagang barang-barang seken serta elektronik, dikenai biaya Rp 200 dikalikan luas lahan  kali 1,5. Jadi dalam sehari hanya membayar Rp 900,” paparnya.

Kendati demikian, Fathurrahman menyesalkan maraknya penjualan barang baru yang terjadi saat ini. Di satu sisi menunjukkan kualitas barang dan pedagang semakin meningkan, namun ciri khas klithikan mulai menghilang. Sedangkan penjualan kios dibenarkan sesuai aturan dengan harga yang melambung tinggi. Pada tahun 2007, harga kios hanya Rp 10 – 15 juta untuk luas 3 meter persegi dan sekarang  mencapai Rp 100 – 150 juta. Sedangkan untuk kios ukuran 20 meter persegi di zonna  X  melebihi angka Rp 300 juta.

Karena itu, Fathurrahman menagih janji Pemkot untuk memberi pembekalan kepada pedagang sesuai kesepatakan sebelum relokasi. Sampai saat ini baru 15 persen yang mendapatkanya berdasarkan inisiatif para pedagang. Sedangkan dua kesepakatan lainya adalah pemberian uang subsidi pascarelokasi dan promo pasar.

“Yang sudah dilakukan saat ini adalah pembekalan, itu pun atas inisiatif pedagang sendiri. Kalau tidak diopyak-opyak, Pemkot diam saja. Yang sudah ditepati ada baru subisi dan habis untuk konsumsi. Sedangkan promo yang bisa membantu kenaikan taraf hidup pedagang sama sekali belum diperhatikan,” keluhnya.

Fathurrahman menambahkan dengan pemberdayaan penjualan atau peralihan kios bisa ditekan dan promosi di masyarakat lokal masih kurang. Padahal, sesuai dengan target penjualan para pedagang. Sedangkan promosi  melalui media internet sudah memadai sehingga bisa diakses secara nasional bahkan internasional.

Butuh Promosi Ubah Imej

Secara terpisah, Pengamat Ekonomi Prof Mudrajad Kuncoro PhD menilai Pasar Klitihikan Pakuncen masih menjadi daya tarik bagi banyak wisatawan yang datang ke Yogyakarta. Murah, unik dan banyak barang antik, merupakan beberapa alasan yang membuat Pasar Pakuncen tetap menjadi favorit. Bahkan, keberadaan pasar ini menjadi bukti kinerja terbaik Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta dalam menata Pedagang KakiLima (PKL).

“Pasar ini menjadi tempat bagi ratusan usaha mikro kecil dan mengengah (UMKM) untuk menyambung nyawa. Bahkan tetap ramai karena segmented dan demand besar dari masyarakat terhadap barang yang dijual. Suatu pasar yang segmented dimana pun tempatnya pasti akan ramai dikunjungi dan sudah menjadi hukum ekonomi,” imbuh Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Kendati demikian, Prof Mudrajat menilai Pemkot harus melakukan inovasi agar pasar ini ramai dikunjungi dengan memperbanyak atraksi hiburan sehingga pengunjung merasa betah. Sebab, pengunjung tidak sekadar berbelanja atau mencari barang yang dibutuhkan, namun berekreasi. Selain itu tetap menjaga kebersihan dan keamanan pasar termasuk menambah fasilitas penitipan anak. Tak kalah pentingnya menggencarkan promosi kepada masyarakat Pasar Pakuncen bukan tempat penadah barang curian.

“Hal ini yang menjadi perhatian khusus bagi pengelola dan pedagang. Menggencarkan promosi dan mengubah imej yang sangat penting. Masyarkat selama ini beranggapan mencari barang bekas dan murah bisa ke klithikan. Barang bekas maksudnya hasil curian dan pedagang tidak bisa melarang berasumsi kecuali dengan memberi bukti,” urainya.

Prof Mudrajat menambahkan usaha lain untuk mengubah imej ini adalah pedagang bisa membuat surat pernyataan kepada masyarakat yang ingin menjual barangnya bukan hasil perbuatan kriminal. Dan, berharap kehadiran pasar ini bisa memberikan multiplier effect yang besar bagi kehidupan masyarakat.

“Yang saya tahu, belum  ada Peraturan Daerah (Perda) menyinggung soal itu. Namun, sudah seharusnya jika penduduk di  sekitar wilayah tersebut diprioritaskan, apalagi yang bergerak di bidang UMKM,” tandasnya.

Pendapatan Jukir Minim

SEAKAN mewabah, minimnya aktivitas perdagangan di dalam Pasar Klithikan Pakuncen Yogyakarta menyebar ke 50 juru parkir yang tergabung dalam Paguyuban Parkir Pasar Hewan Pakuncen (PPHP). Mereka adalah eks jukir bekas Pasar Hewan Pakuncun yang mendapat ‘jatah’ lahan parkir di halaman depan.

Jika melihat banyaknya pegunjung pasar bahkan bisa membludak, profesi ini menjanjikan. Secara sekilas pendapatan pasti membuncah dan menjadi sandaran hidup. Namun, berdasarkan penelusuri mendapati fakta yang terbalik dan para jukir ini mengeluhkan minimnya penghasilan. Apa sebab?

“Tujuan relokasikatanya demi kesejahteraan ternyata tidak terbukti. Pengunjung memang ramai dan sampai membludak, tapi aslinya tidak seperti itu,” kata Jukir Warga Pakuncen, Wirobrajan Bayu kepada KR News Room belum lama ini.

Menurut Bayu penyeab minimnya pendapatan karena harus menyetor secara bulanan kepada Dinas Pengelolaan Pasar Kota Yogtakarta sebesar Rp 10 Juta. Nominal itu terbilang tinggi dan semakin parah dengan kehadiran jukir liar yang tidak memenuhi ketentuan itu.

“Pendapatan sama tukang batu masih kalah. Dalam sehari bisa mendapatkan 600 ribu dan dikalikan sebulan Rp 18 juta dan masih bisa menutupi setoran. Sisanya dibagi seluruh anggota PPHP dan setiap orang hanya mendapatkan Rp 160 ribu,” jelasnya.

Bayu menilai pendapatan jukir saat di Pasar Hewan Pakuncen lebih memadai meski jam kerja cuma 5 hari. Nominalnya masih bisa mencukupi kehidupan sehari-hari dan saat ini sudah tidak lagi sehingga menuntut Pemkot mengurangi jumlah setoran parkir.

Kondisi lebih tragis diungkapkan oleh Koordinator Jukir Eks Klithikan Jalan Pangeran Mangkubumi, Siswanto karena hanya mendapat lahan di sisi selatan pasar dengan lokasi tidak strategis.

“Mau di depan sudah tidak bisa padahal disini bukan akss utama. Malah, kalau malam ada pintu masuk dari selatan yang diportal. Ujung-ujungnya dipakai warga untuk parkir dan sudah menyampaikan keluhan itu. Tapi, tidak pernah mendapat jawaban padahal termasuk parkir resmi dan menyetor pajak setiap bulan,” ungkapnya.

Siswanto mengaku sangat berat padahal saat parkir di Jalan Mangkubumi di bawah naungan Dinas Kota Yogyakarta, jumlahnya bisa dinegosiasikan. “Besarnya tidak saklek dan sedang sepi bisa dinegosiasikan. Kalau hujan tidak setor karena tidak ada pengunjung. Kalau sekarang tidak mau tahu, hujan tidak hujan, tiap bulan harus disetor,” keluhnya.

Tak ayal, saat ini ada 16 orang yang masuk anggota padahal sebelumnya ada puluhan orang. Anggota sudah berganti profesi dan kondisi semakin parah karena yang parkir merupakan pedagang setempat.

“Dulu, dalam 3-4 jam bisa dapat Rp 60-70 ribu dan sekarang dalam seminggu cuma Rp 100 ribu. Pedagang umumnya menitip kenderaan dari pagi sampai malam. Mau gimana lagi, mereka kolea sewaktu di Mangkubumi,” imbuhnya.

Pemilik Lahan Parkir Pribadi, Wahyono memperoleh kenaikan peningkatan dibandingkan saat masih Pasar Hewan Pakuncen karena buka lima hari sekali. Meski lahan pribadi dan sudah turun temurun di tahun 1970 -an mengantongi izin dari dias terkait. “Saya memiliki karcis resmi yang dipakai dan untuk berapa besar pajak yang disetor tidak etis diungkapkan,” kilahnya.

(KRnewsroom/Feb/M3/Tom)

http://krjogja.com/liputan-khusus/khusus/1518/berebut-rezeki-di-pasar-klithikan-pakuncen.kr

Penulis: Blognya Toko Almishbah

Blognya toko almishbah ; Berbagi Informasi..kepada Anda, semoga bermanfaat www.amishbah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s